Bulan Syaban 2026: Momentum Memperkuat Iman Menjelang Ramadan
Bulan Syaban 2026 menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat ibadah dan mempersiapkan diri secara spiritual menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Memuat...
Belakangan ini, wacana meliburkan kegiatan belajar mengajar selama satu bulan penuh pada Ramadan 2025 menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Wacana tersebut digagas oleh Kementerian Agama sebagai langkah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih fokus menjalankan ibadah puasa dan memperdalam pemahaman agama.
NASIONAL - Belakangan ini, wacana meliburkan kegiatan belajar mengajar selama satu bulan penuh pada Ramadan 2025 menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Wacana tersebut digagas oleh Kementerian Agama sebagai langkah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih fokus menjalankan ibadah puasa dan memperdalam pemahaman agama.
Wakil Menteri Agama, HR Muhammad Syafi’i, dalam sebuah pernyataan, menjelaskan bahwa Kementerian Agama tengah mempertimbangkan libur penuh Ramadan untuk madrasah dan pondok pesantren. Namun, kebijakan serupa untuk sekolah umum masih dalam tahap pembahasan.
“Kami memahami kebutuhan umat Islam untuk memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Namun, kebijakan ini perlu mempertimbangkan banyak aspek, termasuk dampaknya terhadap kalender akademik,” ujar Syafi’i dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.
Sejumlah pengamat sosial dan keagamaan memberikan tanggapan positif terhadap wacana ini. Menurut Anwar Abbas, seorang pengamat sosial keagamaan, kebijakan ini akan memberikan ruang lebih bagi siswa untuk menjalankan ibadah puasa, tarawih, serta berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
“Namun, pendidikan tetap harus berjalan. Solusinya bisa melalui pembelajaran daring agar siswa tetap mendapatkan materi akademik meskipun tidak bersekolah secara langsung,” jelasnya.
Di sisi lain, tantangan muncul dari kalangan orang tua dan tenaga pendidik. Sebagian orang tua khawatir bahwa libur panjang tanpa pembelajaran terstruktur dapat memengaruhi capaian akademik siswa. Selain itu, para guru mengingatkan pentingnya menyesuaikan kalender akademik agar tidak mengganggu target penyelesaian kurikulum.
Hingga saat ini, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2025, belum ada ketetapan mengenai libur nasional khusus selama Ramadan. Masyarakat masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah terkait implementasi kebijakan ini.
Di Jambi, tanggapan masyarakat terhadap wacana ini beragam. Fitri, seorang ibu rumah tangga, menyatakan dukungannya. “Kalau benar libur, anak-anak jadi bisa lebih fokus ikut kegiatan Ramadan seperti pesantren kilat,” ujarnya. Namun, berbeda dengan Edi, seorang pegawai swasta, yang berpendapat bahwa libur panjang bisa membuat siswa kehilangan ritme belajar.
Wacana ini diharapkan dapat menjadi solusi yang baik untuk mendukung pelaksanaan ibadah selama Ramadan tanpa mengorbankan hak pendidikan siswa. Kebijakan yang seimbang dan inklusif menjadi harapan semua pihak agar manfaat dari wacana ini dapat dirasakan secara optimal.
Masyarakat Jambi diminta tetap menunggu pengumuman resmi dan terus memberikan masukan agar kebijakan ini bisa dijalankan dengan tepat.
Jambi Kini adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang wilayah Jambi dan nasional. Sebagai bagian dari PT HADIKA, Jambi Kini berfokus pada penyampaian berita yang akurat dan terpercaya. Dengan cakupan mulai dari politik hingga gaya hidup, Jambi Kini menjadi sumber informasi penting bagi pembaca yang ingin tetap update dengan perkembangan terbaru.
Bulan Syaban 2026 menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat ibadah dan mempersiapkan diri secara spiritual menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Bulan Rajab 1447 Hijriah diperkirakan dimulai pada 21 Desember 2025. Bulan mulia ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, menjalankan puasa sunnah, serta mempersiapkan diri menuju bulan suci Ramadhan.
Penetapan ini diumumkan melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah setelah perhitungan hisab dengan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Metode baru ini mulai digunakan tahun 2026 untuk menciptakan keseragaman penanggalan Islam di seluruh dunia.